Akbar Dg Rancha: Antara Pelakon Adat ‘Angngaru/Aru’ dan Adabnya

KORDINAT.ID, Bolmut – Setelah sekian lama rehat sebagai pelakon ‘Aru’, akhirnya pada Sabtu 30 Oktober 2021, Akbar Dg Rancha kembali melakon pada kegiatan Pelantiakn Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Pada kegiatan tersebut, Akbar sapaan akrabnya, mengambil peran sebagai penyambut tamu, yang dilakukan secara adat Makassar.

“Di KKSS, ada semboyan yang berbunyi ‘Dimana Tanah Dipijak, Disitu Langit Dijunjung’. Sehingga Pemda dalam hal ini Bupati Bolmut, Depri Pontoh, itu dianggap sebagai orang yang di peradatkan, melekat juga beliau sebagai Dewan Pembina di KKSS”, terang Akbar.

Advertisement

Dalam peranan sebagai penerima tamu, pria kelahiran Paitana (Je’neponto) 15 September 1987 ini mengatakan, hal tersebut merupakan pertama kalinya ia lakukan diluar wilayah Makassar.

“Perdana saya melakukan ini diluar wilayah Makassar dan pertama kali pula akhirnya angngaru tanpa mencabut badik” ucapnya.

Sebelumnya, dirinya menguraikan tentang peradatan Angngaru atau Aru.

Advertisement

 

“Angngaru atau sering disebut Aru (Berikrar) adalah sebuah kebudayaan pada kesultanan Gowa Makassar. Aru ini memuat syair tua yang didalamnya terdapat makna filosofi prinsip kesungguhan, kerelaan, keihklasan, patriotisme, pantang menyerah, dan pengabdi yang dapat dipercaya serta amanah pada tanggung jawab dalam setiap gubahan syairnya”, tutur Akbar.

Selani itu, Aru juga diyakini mengandung nilai spiritual, dalam artian Aru harus diungkapkan dan dilaksanakan dengan jiwa yang sungguh-sungguh.

“Tersirat dalam makna suatu ikrar oleh seorang Panglima kepada Raja”, ungkapnya.

Saat melakukannya, Akbar tak mencabut badik yang digenggamnya.

“Bukan tanpa alasan mengapa angaru kali ini tak sebagaimana biasanya dengan mempertontonkan atraksi mencabut badik sambil memperlihatkan kekebalan. Hal ini saya lakukan setelah sadar bahwa ada adab yang harus menyertai ilmu, termasuk ilmu kebal”, ungkapnya.

Menurutnya, Adab bagaimana seharusnya badik diperlakukan, kapan harus dicabut, bagaimana cara mencabut dan lain sebagainya yang terdapat nilai sakral didalamnya.

“Selain adab berbadik, juga adab ketika berada dihadapan raja adalah satu poin penting lainnya yang menurut saya harus sejalan dengan ikhtiar menjaga warisan kebudayaan leluhur”, katanya.

Berikut ini, contoh petikan Aru;
Inai-nainamo sallang karaeng
Tama pattojengi tojenga,tama piadaki adaka
Kusalagai siringna, kuisara parallakkenna.

“Salah-satu petikan Aru ini syarat akan makna bagaimana adat dan kebenaran harus dijunjung tinggi”, ucapnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan terkait peradatan yang masih dijunjung tinggi oleh Masyarakat Sulawesi Selatan ini, baginya merupakan suatu anugerah dari leluhur yang didalamnya banyak terkandung nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

“Akhirnya saya lebih memilih dicemooh sebagai pelakon Aru yang tak kebal dan takut memainkan badik, dari pada menjalankan adat tanpa adab”, imbuhnya.

Kedepan dirinya bercita-cita mendirikan sanggar seni yang mengajarkan budaya dan adat makassar di Bolmut.

“Dengan harapan, agar seluruh keturunan anak makassar yang lahir dan besar di tanah mania tak kehilangan identitas asal leluhurnya”, tutupnya.

Svg

Advertisement

Advertisement

Komentar Facebook
Bagikan Berita ini

Baca Juga

Kapolres Bolmut Hadiri Pelantikan BPD KKSS Dirangkaikan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw

KORDINAT.ID, Bolmut – Kapolres Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) AKBP Wahyu Purwidiarso SH SIK, menghadiri pelantikan …